Senin, 19 Juli 2021

MATERIAL AGREGAT

 AGREGAT

Agregat/batuan didefinisikan secara umum sebagai formasi kulit bumi yang keras dan penyal (solid). ASTM (1974) mendefinisikan btuan sebagai suatu bahan yang terdiri dari mineral padat, berupa masa berukuran besar ataupun berupa fragmen- fragmen (39).

Agregat/batuan merupakan komponen utama dari lapisan perkerasan jalan yaitu mengandung 90-95% agregat berdasarkan persentase berat 75-85% agregat berdasarkan persentase volume. Dengan demikian daya dukung, keawetan dan mutu perkerasan jalan ditentukan juga dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain.

A. Klasifikasi Agregat

A. Ditinjau dari asal kejadiannya agregat/batuan dapat dibedakan atas batuan beku (igneous rock), batuan sedimen dan batuan metemorf (batuan malihan)(39)

Batuan beku

Batuan yang berasal dari magma yang mendingin dan membeku. Dibedakan atas batuan beku luar (extrusive igneous rock) dan batuan beku dalam (extrusive igneous rock). Batuan beku luar dibentuk dari material yang keluar ke permukaan bumi di saat gunung berapi meletus. Akibat pengaruh cuaca mengalami pendinginan dan membeku. Umumnya berbutir halus seperti batu apung, andesit, basalt, obsidian,dll. Batuan beku dalam dibentuk dari magma yang tak dapat keluar kepermukaan bumi. Magma mengalami pendinginan dan membeku secara perlahan-lahan,berstruktur kasar dan gerakan bumi. Batuan beku jenis ini antara lain granit, gabbro, diorite, dll.

Batuan sedimen

Sedimen dapat berasal dari campuran partikel mineral, sisa-sisa hewan dan tanaman. Pada umumnya merupakan lapisan-lapisan pada kulit bumi,

hasil endapan di danau, laut dsb.berdasarkan cara pembentukannya batuan sedimen dapat dibedakan:

1). Batuan sedimen yang dibentuk secara mekanik seperti breksi, kongklomerat, batu pasir, batu lempeng. Batuan ini banyak mengandung silica.

2). Batuan sedimen yang di bentuk secara organis seperti batu gamping, batu bara, opal.

3). Batuan sedimen yang di bentuk secara kimiawi seperti batu gamping, garam,gips,flint.

Batuan metamorf

Berasal dari batuan sedimen ataupun batuan beku yang mengalami proses perubahan bentuk akibat adanya perubahan tekanan dan temperature dari kulit bumi. Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan atas batuan metamorf yang masih seperti marmer, kwarsit dan batuan metamorf yang berfoliasi/berlapis seperti batu sabak,filit,sekis.

B. Berdasarkan proses pengolahannya argegat yang dipergunakan pada perkerasan lentur dapat dibedakan atas agregat alam, agregat yang mngalami proses pengolahan terlebih dahulu dan agregat buatan.

Agregat alam

Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana bentuknya di alam atau dengan

sedikit proses pengolahan, dinamakan agregat alam. Agregat ini dibentuk melalui proses erosi degradasi. Bentuk pratikel dari agregat alam ditentukan oleh proses pembentukannya. Aliran air sungai membentuk partikel- partikel bulat-bulat dengan permukaan yang licin. Degradasi agregat di bukit- bukit membentuk partikel-partikel yang bersudut dengan prmukaan yang kasar. Dua bentuk agregat alam yang sering dipergunaan yaitu kerikil dan pasir.

Kerikil adalah agregat dengan ukuran partike > ¼ inch (6,3mm), pasir adalah agregat dengan ukuran partikel < ¼ inch tetapi lebih besar dari 0,0075 mm (saringan no.200).

Berdasarkan tempat asalnya agregat alam dapat dibedakan atas pitrun yaitu agregat yang di ambil dari tempat terbuka dialam dan bankrun yaitu agregat yang berasal dari sungai/ endapan sungai.

Agregat yang melalui proses pengolahan

Di gunung – gunung atau di bukit-bukit sering di temui agregat masih berbentuk

batu gunung, sehingga diperlukan proses pngolahan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai agregat kontruksi perkerasan jalan. Di sungai sering juga di peroleh agregat berbentuk besar-besar melebihi ukuran yang di inginkan. Agregat ini harus melalui proses pemecahan terlebih dahulu supaya diperoleh:

- Bentuk partikel bersudut ,di usahakan berbentuk kubus.

- Permukaan partikel kasar sehingga mempunyai gesekkan yang baik.

- Gradasi sesuai dengan yang diinginkan.

Proses pemecahan agregat sebaiknya menggunakan mesin pemecah batu (cruher stone) sehingga ukuran partikel-partikel yang di hasilkan dapat terkontrol, berarti gradasi yang di harapkan dapat di capai sesuai dengan spesifikasi yang di tetapkan.

Agregat buatan

Agregat yang merupakan mineral filler / pengisi (partikel) dengan ukuran < 0075 mm) di peroleh dari hasil sampingan pabrik-pabrik semen dan mesin pemecah batu.

C. Berdasarkan besar partikel-partikel agregat ,agregat dapat dibedakan atas:

1. Agregat kasar, agregat .4,75 mm menurut ASTM atau , 2 mm ASSHTO

2. Agregat halus, agregat ,< 4,75 mm menurut ASTM atau , < 2 mm dan >0.075 mm menurut AASHTO.

3. Abu batu / mineral filler,agregat halus yang umumnya lolos saringan No.200.


B. Sifat agregat

Sifat dan kwalitas agregat menentukan kemampuannya dalam memikul beban lalu lintas. Agregat dengan kwalitas dan sifat yang baik dibutuhkan untuk lapisan permukaan yang langsung memikul beban lalu lintas dan menyebarkan ke lapisan dibawahnya. Sifat agregat yang menentukan kwalitasnya sebagai bahan konstruksi perkerasan jalan dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :

1. Kekuatan dan keawetan (strength and durability) lapisan perkerasan dipengaruhi oleh :

a. Gradasi

b. Ukuran maksimum

c. Kadar lempung

d. Kekerasan dan ketahanan

e. Bentuk butir

f. Tekstur permukaan

2. Kemampuan dilapisi aspal dengan baik, dipengaruhi oleh :

a. Porositas

b. Kemungkinan basah

c. Jenis agregat

3. Kemudahan dalam pelaksanaan dan menghasilkan lapisan yang nyaman dan aman, dipengaruhi oleh :

a. Tahanan geser (skid resistance)

b. Campuran yang memberikan kemudahan dalam pelaksanaan (bituminous mix workability)

4.2.1 Gradasi dan ukuran maksimum

Gradasi

Gradasi atau distribusi partikel-partikel berdasarkan ukuran agregat merupakan hal yang penting dalam menentukan stabilitas perkerasan. Gradasi agregat mempengaruhi besarnya rongga antar butir yang akan menentukan stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan.

Gradasi agregat diperoleh dari hasil analisa saringan dengan menggunakan 1 set saringan dimana saringan yang paling kasar diletakkan diatas dan yang paling halus terletak paling bawah. 1 set saringan dimulai dari pan dan diakhiri dengan tutup (Gambar 4.11)


Gradasi agregat dapat dibedakan atas :

1. Gradasi seragam (uniform graded), adalah agregat dengan ukuran yang hampir sama/sejenis atau mengandung agregat halus yang sedikit jumlahnya sehingga tidak dapat mengisi rongga antar agregat. Agregat seragam disebut juga gradasi terbuka. Agregat dengan gradasi seragam akan menghasilkan lapisan perkerasan dengan sifat permaebilitas tinggi, stabilitas kurang, berat volume kecil.

2. Gradasi rapat (dense graded), merupakan campuran agregat kasar dan halus dalam porsi yang berimbang, sehingga dinamakan juga agregat baik (well graded).

Agregat dinamakan bergradasi baik jika persen yang lolos setiap tapis dari sebuah gradasi memenuhi :

P = 100 (d/D)0.45

dimana :

P = persen lolos saringan dengan bukaan d mm d = ukuran agregat yang sedang diperhitungkan

D = ukuran maksimum partikel dalam gradasi tersebut

Agregat dengan gradasi rapat akan menghasilkan lapisan perkerasan dengan stabilitas tinggi, kurang kedap air, sifat drainase jelek dan berat volume besar.

3. Gradasi buruk/jelek (poorly graded), merupakan campuran agregat yang tidak memenuhi 2 kategori diatas. Agregat bergradasi buruk yang umum digunakan untuk lapisan perkerasan lentur yaitu gradasi celah (gap graded), merupakan campuran agregat dengan 1 fraksi hilang atau 1 fraksi sedikit sekali. Sering disebut juga gradasi senjang. Agregat dengan gradasi senjang akan menghasilkan lapisan perkerasan yang mutunya terletak antara kedua jenis diatas.



Sifat-sifat yang dimiliki ketiga gradasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


Ukuran maksimum partikel agregat

Semua lapisan perkerasan lentur membutuhkan agregat yang terdistribusi dari besar sampai kecil. Semakin besar ukuran maksimum partikel agregat yang

digunakan semakin banyak variasi ukuran dari besar sampai kecil yang dibutuhkan. Batasan ukuran maksimum yang digunakan dibatasi oleh tebalnya lapisan yang diharapkan. Penggunaan partikel agregat dengan ukuran besar menguntungkan karena:

- Usaha untuk pemecahan partikel lebih sedikit, sehingga biayanya lebih murah.

- Luas permukaan yang harus diselimuti aspal lebih sedikit sehingga kebutuhan akan aspal berkurang.

Disamping keuntungannya tersebut diatas pemakaian agregat dengan ukuran besar memberikan sifat-sifat yang kurang baik yaitu :

- Kemudahan pelaksanaan pekerjaan berkurang

- Segregasi bertambah besar

- Mungkin terjadi gelombang melintang (ravelling)

Terdapat 2 cara unutk menyatakan ukuran partikel agregat yaitu dengan :

- Ukuran maksimum, merupakan ukuran tapis/ ayakan terkecil dimana agregat tersebut lolos 100 %

- Ukuran nominal maksimum, merupakan ukuran tapis terbesar dimana agregat tertahan tapis tidak lebih dari 10%

Perbedaan kedua ukuran tersebut dapat diilustrasikan dengan contoh dibawah ini: Dari contoh agregat yang akan dipergunakan untuk campuran lapisan perkerasan diperoleh data bahwa partikel agregat 100% lolos tapis 1 inch. Partikel terbesar tertahan tapis 3/4 inch yang diletakkan dibawah tapis 1 inch dan ukuran nominal maksimum adalah 3/4 inch.

4.2.2. Kadar Lempung

Lempung mempengaruhi mutu campuran agregat dengan aspal karena :

- Lempung membungkus partikel-partikel agregat sehingga ikatan antara agregat dan aspal berkurang.

- Adanya lempung mengakibatkan luas daerah yang harus diselimuti aspal bertambah. Dengan kadar aspal yang sama

akan menghasilkan tebal lapisan yang lebih tipis yang dapat mengakibatkan terjadinya stripping (lepasnya ikatan antara aspal dan agregat).

- Tipisnya lapisan aspal mengakibatkan lapisan lapisan mudah teroksidasi sehingga lapisan cepat rapuh/getas.

- Lempung cendrung menyerap air yang berakibat hancurnya lapisan aspal.

Terdapat 2 pemeriksaan yang umum dilakukan untuk menentukan kadar lempung yang dikandung oleh campuran agregat yaitu :

- Atterberg limit, dilakukan untuk campuran agregat yang agak halus. Atterberg limit yang umum dipergunakan adalah batas cair mengikuti

procedure PB-0109-76 atau AASHTO T89-81 dan indeks plastis mengikuti prosedure PB-0110-76 atau AASHTO T90-81, dilakukan untuk contoh tanah lolos No. 40, dengan menggunakan alat seperti pada gambar ?

- Sand equivalent test dilakukan untuk partikel agregat yang lolos saringan No. 4 sesuai prosedure AASHTO T176-73 (1982). Contoh sebanyak 150 gr dimasukkan ke dalam larutan CaCL2

yang diletakkan didalam tabung kaca dan diendapkan selama

10 menit. Selanjutnya tabung yang telah ditutup dengan karet tersebut dikocok dalam arah mendatar sebanyak 90 kali. Larutan ditambah sampai skala 15 dan dibiarkan selama 20 menit. Setelah itu dibaca skala pasir dan skala lumpur.

Nilai SE = skala pasir/skala lumpur x 100%

Nilai sand equivalent dari partikel agregat yang memenuhi syarat untuk bahan konstruksi perkerasan jalan adalah > 50%

4.2.3 Daya tahan agregat

Daya tahan agregat adalah ketahanan agregat untuk tidak hancur / pecah oleh pengaruh mekanis ataupun kimia.

Degradasi didefinisikan sebagai kehancuran agregat menjadi partikel- partikel yang lebih kecil akibat gaya yang diberikan pada waktu penimbunan, pemadatan ataupun oleh beban lalu lintas.

Disintegrasi didefinisikan sebagai pelapukan pada agregat menjadi butir- butir halus akibat pengaruh kimiawi seperti kelembaban, kepanasan ataupun perbedaan temperature sehari-hari.

Agregat yang digunakan untuk lapisan perkerasan haruslah mempunyai daya tahan terhadap degradasi (pemecahan) yang mungkin timbul selama proses pencampuran, pemadatan, repetisi beban lalu lintas dan disintegrasi (penghancuran) yang terjadi selama masa pelayanan jalan tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat degradasi yang terjadi adalah:

- Jenis agregat yang lunak mengalami degradasi yang lebih besar dari agregat yang lebih keras.

- Gradasi, gradasi terbuka mempunyai tingkat degradasi yang lebih besar dibandingkan dengan gradasi rapat.

- Bentuk, partikel bulat akan mengalami degradasi yang lebih besar dari yang berbentuk kubus/bersudut.

- Ukuran partikel, partikel yang lebih kecil mempunyai tingkat degradasi yang lebih kecil dari pada partikel besar.

- Enersi pemadatan, degradasi akan terjadi lebih besar pada pemadatan dengan menggunakan enersi pemadatan yang lebih besar.

Penentuan tingkat ketahanan

Ketahanan agregat terhadap penghancuran (degradasi) diperiksa dengan menggunakan percobaan Abrasi Los Angeles(Abration Los Angeles Test), berdasarkan PB-0206-76, AASHTO T96-7(1982).

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan mesin los Angeles yang dapat dilihat pada gambar 4.14

Agregat yang telah disiapkan sesuai gradasi dan berat yang ditetapkan, dimasukkan bersama bola-bola baja kedalam mesin Los Angeles, lalu diputar dengan kecepatan 30/33 rpmselama 500 putaran. Nilai akhir dinyatakan dalam persen yang merupakan hasil perbandingan antara berat benda uji semula – berat benda uji tertahan saringan No. 12 dengan berat benda uji semula.

Nilai tinggi menunjukan banyaknya benda uji yang hancur akibat putaran alat yang mengakibatkan tumbukan dan gesekan antar partikel dan dengan bola- bola baja, Nilai abrasi > 40% menunjukkan agregat tidak mempunyai kekerasan cukup untuk digunakan sebagai bahan / material lapisan perkerasan. Nilai abrasi < 30%, baik sebagai bahan lapis penutup. Nilai abrasi <40%, baik sebagai bahan pelapis permukaan dan lapisan pondasi atas.

Nilai abrasi < 50%, dapat dipergunakan sebagai bahan lapisan lebih bawah. Ketahanan agregat terhadap penghancuran (disintegrasi) pada umumnya diperiksa dengan menggunakan pemeriksaan soundness.

Pemeriksaan ketahanan terhadap cuaca ini dilakukan dengan percobaan soundness yaitu agregat direndam didalam sulfat pekat atau sodium sulfat sampai jenuh, dicuci dan direndam kembali sebanyak 5x berdasarkan AASHTO T104-77(1982).

Larutan natrium sulfat masuk kedalam pori-pori dari agregat dan akibat proses pengeringan, agregat yang tak kuat akan hancur.

Kehilangan berat akibat perendaman ini dinyatakan dengan persen. Agregat dengan soundness ≤ 12% menunjukan agregat yang cukup tahan terhadap pengaruh cuaca dan dapat digunakan untuk lapisan permukaan. Besarnya nilai soundness dipengaruhi juga oleh jenis/ mineral agregatnya.

5.2.4. Bentuk dan tekstur agregat

Bentuk dan tekstur mempengaruhi stabilitas dari lapisan perkerasan yang dibentuk oleh agregat tersebut.

Partikel agregat dapat berbentuk :

- Bulat (rounded)

Agregat yang dijumpai disungai pada umumnya telah mengalami

pengikisan oleh air sehingga umumnya berbentuk bulat. Partikel agregat bulat slaing bersentuhan dengan luas bidang kontak kecil

sehingga menghasilkan daya interlocking yang lebih kecil dan lebih mudah tergelincir.

- Lonjong (elongated)

Partikel agregat berbentuk lonjong dapat ditemui disungai-sungai atau bekas endapan sungai. Agregat dikatakanlonjong jika ukuran terpanjang >1.8 kali diameter rata-rata. Indeks kelonjongan (elongated index) adalah perbandingan dalam persen dari berat agregat lonjong terhadap berat total. Sifat interlockingnya hampir sama dengan yang berbentuk bulat.

- Kubus (cubical)

Partikel berbentuk kubus merupakan bentuk agregat hasil dari mesin

pemecah batu (crusher stone) yang mempunyai bidang kontak yang lebih luas, (berbentuk bidang rata sehingga memberikan interlocking / saling mengunci yang lebih besar. Dengan demikian kestabilan yang diperoleh lebih besar dan lebih tahan terhadap deformasi yang timbul. Agregat berbentuk kubus ini paling baik digunakan sebagai bahan konstruksi perkerasan jalan.



- Pipih (flaky)

Partikel agregat berbentuk pipih dapat merupakan hasil dari mesin pemecah batu ataupun memang merupakan sifat dari agregat tersebut yang jika dipecahkan cenderung berbentuk pipih. Agregat pipih yaitu agregat yang lebih tipis dari 0.6 kali diameter rata-rata. Indek kepipihan (flakiness index) adalah berat total agregat yang lolos slot dibagi dengan berat total agregat yang tertahan pada ukuran nominal tertentu. Agregat berbentukpipih mudah pecah pada waktu pencampuran, pemadatan, ataupun akibat beban lalu lintas, oleh karena itu banyaknya agregat pipih ini dibatasi dengan menggunakan nilai indeks kepipihan yang disyaratkan.

- Tak beraturan (irregular)

Partikel agregat yang tidak beraturan, tidak mengikuti salah satu yang disebut diatas. Gesekan yang timbul antar partikel menentukan stabilitas dan daya dukung dari lapisan perkerasan. Besarnya gesekan dipengaruhi oleh jenis permukaan agregat yang dapat dibedakan atas agregat yang permukaannya kasar (rough), agregat yang permukaannya halus (smooth), agregat yang permukaannya licin dan menngkilap (glassy), agregat yang permukaannya berpori (porous). Gesekan timbul terutama pada partikel-partikel yang permukaannya kasar (seperti ampelas). Sudut geser dalam antar

partikel bertambah besar dengan makin bertambah besar dengan semakin bertambah kasarnya permukaan agregat. Disamping itu agregat yang kasar lebih mampu menahan deformasi yang timbul dengan menghasilkan ikatan antar partikel yang lebih kuat. Pada campuran dengan aspalpun ikatan antara partikel-partikel dan lapisan aspal lebih baik dari permukaan kasar dibandingkan dari permukaan halus. Agregat berpori akan menyerap aspal lebih banyak sehingga aspal yang menyelimut agregat akan lebih tipis dan menyebabkan cepat lepasnya ikatan antara agregat dengan aspal. Disamping itu agregat berpori umumnya lebih mudah pecah / hancur.


Agregat yang merupakan hasil mesin pemecah batu mempunyai permukaan kasar, sedangkan agregat dari sungai biasanya halus dan licin.

4.2.5. Daya lekat terhadap aspal (affinity for asphalt)

Factor yang mempengaruhi lekatan aspaldan agregat dapat dibedakan atas 2 bagian yaitu :

1. Sifat mekanis yang tergantung dari :

- Pori-pori dan absorpsi

- Bentuk dan tekstur permukaan

- Ukuran butir

2. Sifat kimiawi dari agregat

Agregat berpori berguna untuk menyerap aspal sehingga ikatan antara aspal dan agregat baik. Tetapi terlalu banyak pori dapat mengakibatkan terlalu banyak aspal yang terserap yang berakibat lapisan aspal menjadi tipis. Banyaknya pori-pori diperkirakan dari banyaknya air yang dapat terabsorbsi oleh agregat.

Penyerapan (absorpsi) = (Bj – Bk)/Bk x 100% Dimana : Bk : berat benda uji oven

Bj : berat benda uji kering permukaan jenuh

Air yang telah diserap oleh agregat sukar dihilangkan seluruhnya walaupun melalui proses pengeringan sehingga mempengaruhi daya lekat aspal dengan agregat. Oleh karena itu besarnya absorbsi dibatasi 3% untuk agregat yang akan digunakan untuk lapisan permukaan dengan pengikat aspal.

Agregat berbentuk kubus dan kasar lebih baik mengikat aspal daripada agregat berbentuk bulat dan halus. Permukaan agregat yang kasar akan memberikan ikatan dengan aspal lebih baik dari pada agregat dengan permukaan licin.

Disamping hal tersebut diatas daya lekatan dengan aspal dipengaruhi juga oleh sifat agregat terhadap air. Granit dan batuan yang mengandung silica merupakan agregat bersifat hydrophilic yaitu agregat yang senang terhadap air. Agregat demikian tidak baik untuk digunakan sebagai bahan campuran dengan aspal, karena mudah terjadi stripping yaitu lepasnya lapis aspal dari agregat akibat pengaruh air. Sebaliknya agregat seperti dioritandesit disebut agregat hydrophobic, adalah agregat yang tidak mudah terikat dengan air sehingga ikatan antara aspal dan agregat cukup baik dan stripping yang terjadi kecil sekali. Pemerikasaan agregat untuk daya lekatnya terhadap aspal dilakukan dengan percobaan stripping mengikuti PB

0205-76 atau AASHTO T182-82. Kelekatan agregat terhadap aspal dinyatakan dalam persentase luas permukaan batuan yang tertutup aspal terhadap seluruh luas permukaan.

Nilai kelekatan agregat terhadap aspal untuk bahan campuran dengan aspal minimal 95%.

4.2.6. Berat jenis (specific gravity)

Berat jenis agregat adalah perbandingan antara berat volume agregat dan berat volume air. Besarnya berat jenis agregat penting dalam perencanaan campuran agregat dengan aspal karena umumnya direncanakan berdasarkan perbandingan berat dan juga untuk menentukan banyak pori. Agregat dengan berat jenis yang kecil mempunyai volume yang besar sehingga dengan berat yang sama membutuhkan jumlah aspal yang lebih banyak. Disamping itu agregat dengan kadar pori besar membutuhkan jumlah aspal yang banyak.

Ada 3 jenis berat jenis yang dapat ditentukan berdasarkan manual PB 0202-76 atau AASHTO T85-81.

1. Bulk specific gravity (berat jenis bulk)

adalah berat jenis dimana volume yang diperhitungkan adalah seluruh volume pori yang ada (volume pori yang dapat diresapi air dan volume pori yang tak dapat diresapi air.



Bulk SG = Ws = Ws (Vp + Vi +Vs)yw Bj -Ba

Bulk SG = Ws = Ws (Vp + Vi +Vs)yw Bj -Ba Dimana :

Vp = volume pori yang dapat diresapi air V = volume total dari agregat

Vi = volume pori yang tak dapat diserap air Vs = volume partikel agregat

Ws = berat kering partikel agregat yw = berat volume air

Bj = berat dalam keadaan jenuh air Ba = berat agregat didalam air

Bk = berat agregat kering

Jika dianggap aspal hanya menyelimuti bagian luar dari agregat maka digunakan bulk specific gravity.

Agregat specific gravity (berat jenis apparent)

Jika volume yang diperhitungkan adalah volume partikel dan bagian yang dapat diresapi air, maka disebut berat jenis apparent.

Penggunaan berat jenis ini dalam perhitungan jika dianggap aspal dapat meresapi seluruh bagian yang dapat diresapi air.

Apparent SG = Ws = Ws

(Vs + Vi)yw Bj –Ba

Effective specific gravity (berat jenis effective)

Pada kenyataannya aspal yang digunakan secara normal hanya akan meresapi sebagian dari pori yang dapat diresapi oleh air itu.

Dengan demikian sebaiknya menggunakan berat jenis effective.

Effective SG = Ws = Ws (Vs + Vc +Vi)yw Bj –Ba


Omah Sipil adalah Blog yang seputar ilmu teknik yang mempelajari tentang bagaimana merancang/merencanakan, membangun, merenovasi tidak hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia. Selengkapnya klik di sini...

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :


EmoticonEmoticon